Teman-Teman Satu Gank :D

Teman-teman satu gank, kami insyaAllah bertemu setiap 2 pekan sekali, pertemuan yang padat agenda, mulai dari majelis ilmu, tahsin, muroja’ah, taujih, kultum, curhat, lunch bareng dan kadang masak rame-rame :D. Tak ingin rasanya melewatkan, walaupun tak jarang lokasinya lumayan jauh karena kami tinggal di segala penjuru Tokyo dan sekitarnya, InsyaAllah mengusahakan hadir di setiap kesempatannya:). Alhamdulillah, tak menyangka, walaupun di Jepang, Allah telah mempertemukan saya dengan teman - teman yang sholehah (insyaAllah, aamiin). Ukhuwah, kebersamaan, persaudaraan, keluarga, syukur yang tak hingga, terimakasih ya Allah.

Teman-teman satu gank, afia, Ega, Farida, Ami, Wahyu, Ajeng, Hana, Meikha dan Mb Nunung, kami bisa dikatakan seumuran, mungkin hanya berbeda 1-2 tahun kecuali “kakak pembimbing” kami :). Mungkin karena jauh dari keluarga, rasa ukhuwah itu semakin terasa. Bulan September dan Oktober ini, 3 anggota gank, Ega, Ami dan Hana pulang ke Indonesia (BFG= back for good), sedihnya :(. Semoga diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu kembali dan tentunya menjaga silahturahmi :). Alhamdulillah 2 anggota gank, Wahyu dan Ega berserta suami mereka, mendapatkan rizki untuk menunaikan ibadah haji dari Jepang, barakallah, hajjan mabruro!

Foto bersama dengan formasi yang tidak lengkap :
Ega, Ami, Hana, Mb Ina + Manabu Kun, Afia, Meikha dan Wahyu

Teman-teman satu gank, selalu menginspirasi bagi diri saya, membuat saya termotivasi untuk selalu mebaikkan diri, strive to paradise, insyaAllah, semangat! InsyaAllah kami saling mengingatkan, saling mendoakan agar semua urusan dimudahkan, diberi kelancaran dan diberkahi oleh Allah, saling menguatkan untuk meninggikan kalimatNya, memperjuangkan agamaNya dan tentunya semoga kita dihimpunkan di surgaNya kelak, aamiin aamiin ya Robbal alamin, peluk erat semua :).

Allah memang selalu baik, betapa banyak dosa saya, tak terhingga…, tetapi karuniaNya masih selalu tercurah, salah satunya dipertemukan dengan orang - orang yang shaleh seperti mereka …mendadak melow … ><

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Yokohama, 29 Oktober 2013
ditulis saat Ega mulai menghibahkan dan menjual barang - barangnya di Tokyo, persiapan BFG …


Bunuh diri di Jepang

Pagi itu, dengan penuh semangat saya berlari - lari dari dormitory ke stasiun untuk mengejar kereta ekspres, kebetulan saya ada appointment dengan Sensei untuk mempresentasikan riset saya yang akan dipresentasikan di InCoB 2013. Setibanya di stasiun, antrian mengular sampai jauh ke luar stasiun, ada apa? ternyata ada yang bunuh diri di Keihin Tohoku Line menuju stasiun Yokohama. A’oo, bagaimana dong? Alhamdulillah saya memiliki spare waktu sekitar 2 jam sebelum presentasi, mau tidak mau ikut mengantri, dan alhamdulillah presentasinya well done!:)



Tingkat bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Salah satu spot favorit untuk bunuh diri adalah rel kereta. Mereka yang bunuh diri biasanya akan terjun bebas dari suatu tempat sekitar stasiun ke rel kereta. Sejak tinggal di dormitory baru, saya harus menjangkau kampus dengan kereta dua kali, transit di stasiun Yokohama. Selama 6 bulan, saya menyaksikan peristiwa bunuh diri di line kereta saya sebanyak 6 kali, saya tidak menyaksikan peristiwa secara langsung dan melihat korbannya, tetapi ikut menikmati dampaknya, kereta tidak beroperasi beberapa saat. Orang yang bunuh diri sebagian besar berada di usia produktif (masih muda), alasannya pun bermacam - macam, tetapi jarang yang karena masalah cinta, ***upsss :D. Sebagian besar karena masalah pencapaian, misalnya tidak lulus tes, merasa tidak bisa memecahkan problem di kantor, etc. Intinya, mungkin karena mereka, sebagian besar jauh dari rasa syukur dan tawakal, jadinya kalau gagal, dunia serasa sudah berakhir. Saya mendapat link video tentang penelitian suicide di Jepang dari teman seorang Japanese yang kuliah di Keio.

Yups, jalan hidup masih panjang terbentang di hadapan tak hanya sekedar dunia, harus bahagia penuh syukur dan semangat selalu! ^_^

Yokohama, 2 Oktober 2013.


Pernikahan Visioner (1)

Saya mencoba menulis ulang salah satu kajian dari program KRPH Masjid Mardliyyah UGM yang disampaikan oleh Ustad Salim A. Fillah, berjudul Pernikahan Visioner. Saya mendengarkan rekamannya via RadioKRPH yang dapat di-download. Saya juga mencoba melengkapi tulisan ini dari beberapa artikel yang saya baca. Tulisan ini saya bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang materi secara keseluruhan, sedangkan bagian kedua tentang kisah - kisah yang diceritakan Ustad Salim A.Fillah untuk melengkapi kajian tersebut.

Visioner bisa diartikan memiliki pandangan jauh ke depan. Apa maksudnya pernikahan visioner? Maksudnya dapat diartikan memiliki visi untuk membawa pernikahan itu sampai ke akhirat, yaitu akan dihimpunkan oleh Allah SWT bersama keturunan dan keluarga mereka berkumpul kembali di surga. Sesuai dengan firman Allah di beberapa ayat dalam Al Qur’an :

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(QS At Thur:21)

QS Al Furqon:74
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhoan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shaleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “ Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (Q.S. Ar-Ra’d (13): 22-24)

Bagaimana caranya mencapai pernikahan sehingga akhirnya dihimpunkan oleh Allah bersama keturunan dan keluarga berkumpul kembali di surga ?

1. Niat
Dalam melakukan amal ibadah, pertama kali hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan adalah niat. Menikah merupakan suatu ibadah yang mulia, untuk memulainya, perhatikan niat. Apa niat yang tepat dalam menikah sehingga mencapai pernikahan visioner? Tentunya niat hanya karena Allah, Lillahita’ala. Niat hanya karena Allah dapat dideskiripsikan sebagai berikut
a. Agar terhindar dari segala perbuatan maksiat/dosa kepada Allah
Jika seorang manusia merasa sudah mampu (ba’ah) hendaklah ia menikah, karena menikah lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan, sesuai dengan hadits Rasululllah.

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Seorang mukmin tentunya berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan terhindar dari perbuatan dosa. Jika seorang mukmin menikah dengan niat untuk menjaga dirinya, agar terhindar dari perbuatan maksiat dan tidak jatuh ke dosa, itu merupakan niat yang mulia. Allah akan memberi pertolongan kepada salah satunya, golongan orang yang menjaga kesuciannya dengan menikah, sesuai dengan sabda Rasulullah

”Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah; orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya dan orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 437), an-Nasa-i (VI/61), at-Tirmidzi (no. 1655), Ibnu Majah (no. 2518), Ibnul Jarud (no. 979), Ibnu Hibban (no. 4030, at-Ta’liiqatul Hisaan no. 4029) dan al-Hakim (II/160, 161).

b. Pernikahan adalah sebuah amal ibadah yang mulia
Dengan menikah akan terbuka kesempatan banyak amal - amal baru yang tidak dapat dilakukan jika masih “single”. Seseorang yang memiliki niat Lillahita’ala dalam menikah, salah satunya memiliki tujuan agar mampu menegakkan syiar - syiar ibadah yang lebih agung dan lebih mulia dengan menikah. Pasangan suami dan istri sejatinya tidak saling memiliki, tetapi saling dititipi, saling menjaga dalam menggenapkan agama, mentaati Allah SWT.

c. Bersihnya hati dari berbagai macam motivasi - motivasi yang dalam pernikahan dapat menganggu perjalanan keberkahan

Menikah dengan niat Lillahita’ala akan membuat hati menjadi bersih dari motivasi - motivasi yang dapat mengganggu datangnya keberkahan dalam pernikahan. Misalnya prioritas kriteria dalam memilih pasangan hidup. Rasulullah bersabda, pada umumnya memilih pasangan karena 4 perkara, yaitu harta, nasab, kecantikan dan agama. Pada umumnya, agama menjadi urutan terakhir, kemudian Rasulullah berpesan, pilihlah karena agamanya, maka engkau akan beruntung. Harus meluruskan niat, alasan utama apa yang membuat seseorang memilih pasangannya akan menentukan keberkahan dari pernikahannya. Jangan menikah hanya karena kekayaannya, karena akan menjadi kefakiran, jangan menikah hanya karena rupanya karena akan menjadi fitnah, jangan menikah hanya karena keturunannya karena akan menjadi kehinaan. Hikmah tentang memilih pasangan karena agamanya dapat dilihat dari kisah menikahnya putra Umar bin Khotob, dan kisah Mubarok, insyaAllah di artikel bagian 2

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari)

Kunci pertama untuk mencapai pernikahan visioner adalah niat, yaitu niat hanya karena Allah SWT. Lalu apa tips dan trik agar dapat menjemput jodoh terbaik dan mencapai pernikahan visioner, salah satu diantaranya yaitu dengan melakukan kebajikan dimanapun dan tanpa henti. Hal ini tercermin dari hikmah kisah Nabi Musa AS dalam menjemput jodohnya.

2. Operasional
Setelah niat, maka selanjutnya adalah bagaimana dalam mengamalkan, bagaimana operasionalnya. Untuk mencapai pernikahan visioner, tentunya operasionalnya harus sesuai dengan cara - cara yang syar’i, dengan menegakkan nilai - nilai agama Allah dalam segala hal, diantaranya

  1. saat istikharoh
  2. saat memilih pasangan
  3. saat menempuh proses untuk menikah, proses menjemput jodoh terbaik, apakah dilakukan dengan cara - cara yang syar’i, mulia dan berbuah pahala atau dengan cara - cara yang mendekati zina dan menjatuhkan diri ke dalam maksiat dan dosa
  4. saat proses akad dan walimah, tunaikan rukun dan hal - hal yang disunahkan
  5. bagaimana menjaga hubungan antara suami istri, bagaimana menunaikan hak dan kewajiban antara suami istri, bagaimana komunikasi antara suami dan istri yang saling memuliakan dan melengkapi.
  6. bagaimana mendidik anak - anak dan keturunannya.

Agar dapat mendidik anak - anak dan keturunan yang sholeh dan sholehah, seorang laki - laki yang akan menjadi calon ayah akan memilih calon ibu yang sholehah. Bagaimana cara mendapatkan jodoh calon ibu yang sholehah? Jika mengaku cinta kepada Allah, maka hendaknya memantaskan diri untuk dicintai oleh Allah, begitu juga untuk mendapatkan jodoh calon ibu yang sholehah, yaitu berusaha menjadi calon ayah yang sholeh, karena ibu yang sholehah hanya untuk calon ayah yang sholeh dan begitu juga sebaliknya, sesuai firman Allah dalam QS An Nur 26

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

3. Menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai sarana untuk mendakwahkan syiar Allah
Manusia merupakan mahluk sosial, lingkup sosial terkecil adalah keluarga inti, ayah, ibu dan anak - anaknya. Tentunya kita tidak hanya berinteraksi dengan keluarga dalam 24 jam sehari, tetapi sebagian besar waktu kita digunakan berinteraksi dengan lingkup sosial yang lebih besar. Dakwah sering dinilai sesuatu yang hal yang besar dan terlalu sulit, padahal setiap mukmin memiliki kewajiban untuk berdakwah, dakwah merupakan suatu upaya untuk menjaga diri kita. Begitu juga dalam membangun keluarga, misalnya anak - anak kita akan menghabiskan waktu bermain dengan tetangga kita, saat tetangga dan lingkungan baik, maka anak - anak kita akan terjaga, tetapi tentu tidak jika sebaliknya. Lingkungan yang baik dapat dibentuk salah satunya dengan mendakwahkan syiar Allah dalam lingkungan tersebut.

Semoga bermanfaat, Yokohama, 2 Oktober 2013.

Gambar di ambil dari sini.
Referensi :
http://maramissetiawan.wordpress.com/2012/10/08/bersama-orang-tua-menuju-surga-tafsir-q-s-at-thuur-21/
http://www.islamedia.web.id/2011/08/visi-rumah-tangga-muslim-dalam-surat-al.html
http://www.konsultasisyariah.com/bertemu-di-surga-dengan-orang-tua/
http://aguslim.blogspot.jp/2011/05/nabi-musa-bertemu-jodoh-di-madyan.html


12th International Conference on Bioinformatics (InCoB 2013)

Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil riset saya di InCob 2013. InCoB 2013 merupakan salah satu top conferences on bioinformatics. Salah satu yang membuat saya “bangga”, I am the only Indonesian and the only hijaber (muslim). Semoga presentasi saya membawa keberkahan bagi agama islam dan kehidupan saya selanjutnya di dunia dan akhirat :).

Seperti conference yang pernah saya ikuti sebelumnya, komposisi PhD student sebagai presenter pada conference ini bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar, presenter-nya adalah PostDoc, Research Fellow dan Professor. Kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk menjalin networking dan tentunya komen dan saran audience terhadap riset saya.

Saya menjadi the last speaker in the last session. Awalnya membuat saya berpikir, mungkin para audience sudah tidak excited dan ngantuk. Ternyata saya salah, setelah presentasi, terdapat beberapa pertanyaan dan komentar yang diajukan oleh audience. Di saat itu, saya baru menyadari, benar apa yang dikatakan supervisor saya (Sensei), bidang riset saya merupakan problem yang cukup kompleks dan sangat dibutuhkan solusinya, terutama untuk the next generation of problem solving. Bidang riset saya adalah metagenomic assembly, saya men-develop software untuk meng-assembly metagenomic data. Hal ini sangat berguna untuk step selanjutnya, salah satunya untuk cancer genomics. Komentar terakhir yang diberikan oleh seorang audience membuat hati saya “berdebar” hehe… seorang research fellow di Singapura yang bermain dengan data metagenome, sebelumnya mengambil PostDoc di German dan UK. Dia memiliki data metagenome dan membutuhkan software assembly, dia menawarkan untuk berkolaborasi. Alhamdulillah, di saat itu Sensei saya juga hadir, tentunya kesempatan itu langsung ditangkap oleh Sensei.

Alhamdulilah, syukur yang tak hingga, senangnya hati ini saat riset kita berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah semoga membawa keberkahan, aamiin, keep spirit! :).


Menjaga, Menata lalu Bercahaya …

Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah. - Salim A Fillah from http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/

Jodoh tetap misteri.
Syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan & mengupayakan yang terbaik menuju pernikahan suci di dunia nan fana.
Cara menjemput jodoh terbaik adalah dengan membaikkan diri di tiap bilang hari. - Salim A. Fillah


Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu

Saat Allah menitipkan buah hati, artinya pasangan suami istri tersebut diberikan amanah, maka amanah tersebut harus dijaga secara baik. Untuk mendidik anak - anak yang sholeh sholehah dan qurrota’ayun, diperlukan kerjasama yang “keren” antara ayah dan ibu. Secara fitrah, seorang wanita tentunya memiliki naluri keibuan. Sejak diciptakan, seorang anak menghabiskan waktunya lebih lama dengan ibunya, yaitu sejak dikandung di dalam rahim ibunya. Anak merupakan investasi terbesar, salah satu amal jariyah yaitu anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Doa dan harapan sebuah keluarga muslim tentunya ingin mendapatkan keberkahan dari rumah tangga yang sakinah mawwadah warohmah, bersama - sama memasuki surgaNya kelak dengan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Tahun lalu (ya ampuun udah lama banget… :D), sempat membaca - baca sebuah buku mendidik anak ala Rasulullah (Prophetic Parenting), sinopsisnya saya tulis di sini. Rencananya, mau membaca seluruh bab dalam buku itu, tetapi karena saya yang super malas :(, ternyata baru selesai membaca bagian awal (tentang materi pranikah).
Tidak sengaja membaca note dari teman saya yang tinggal di Jepang, note tersebut berjudul “Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu”, note tersebut mengutip tulisan dengan judul yang sama yang ter-posting di beberapa web islam. Tulisannya benar - benar inspiring, tertohok sangat …. Anak memang investasi terbesar, kita belum tentu dapat mendidik anak kita nanti seperti orang tua kita mendidik kita sampai saat ini :(. Nasehat dari kakak - kakak, teman - teman yang sudah memiliki buah hati, lebih baik dimulai membaca dan mencari ilmu parenting sebelum menikah, karena saat sudah menikah dan si buah hati sudah lahir, waktunya akan lebih terbatas dibanding jika masih single. Yups, mari belajar dan semangat membaca bab - bab selanjutnya! ^_^

Anyway, artikel berjudul Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, saya salin di bawah, supaya teringat jika membuka blog, mengharu biru … :). Sumbernya berasal dari portal bersamadakwah.com

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.