Bunuh diri di Jepang

02 October 2013 | Beyond Japan

Pagi itu, dengan penuh semangat saya berlari - lari dari dormitory ke stasiun untuk mengejar kereta ekspres, kebetulan saya ada appointment dengan Sensei untuk mempresentasikan riset saya yang akan dipresentasikan di InCoB 2013. Setibanya di stasiun, antrian mengular sampai jauh ke luar stasiun, ada apa? ternyata ada yang bunuh diri di Keihin Tohoku Line menuju stasiun Yokohama. A’oo, bagaimana dong? Alhamdulillah saya memiliki spare waktu sekitar 2 jam sebelum presentasi, mau tidak mau ikut mengantri, dan alhamdulillah presentasinya well done!:)



Tingkat bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Salah satu spot favorit untuk bunuh diri adalah rel kereta. Mereka yang bunuh diri biasanya akan terjun bebas dari suatu tempat sekitar stasiun ke rel kereta. Sejak tinggal di dormitory baru, saya harus menjangkau kampus dengan kereta dua kali, transit di stasiun Yokohama. Selama 6 bulan, saya menyaksikan peristiwa bunuh diri di line kereta saya sebanyak 6 kali, saya tidak menyaksikan peristiwa secara langsung dan melihat korbannya, tetapi ikut menikmati dampaknya, kereta tidak beroperasi beberapa saat. Orang yang bunuh diri sebagian besar berada di usia produktif (masih muda), alasannya pun bermacam - macam, tetapi jarang yang karena masalah cinta, ***upsss :D. Sebagian besar karena masalah pencapaian, misalnya tidak lulus tes, merasa tidak bisa memecahkan problem di kantor, etc. Intinya, mungkin karena mereka, sebagian besar jauh dari rasa syukur dan tawakal, jadinya kalau gagal, dunia serasa sudah berakhir. Saya mendapat link video tentang penelitian suicide di Jepang dari teman seorang Japanese yang kuliah di Keio.

Yups, jalan hidup masih panjang terbentang di hadapan tak hanya sekedar dunia, harus bahagia penuh syukur dan semangat selalu! ^_^

Yokohama, 2 Oktober 2013.


One Response to “Bunuh diri di Jepang”

  • 1 sangprabo Says:

    Biasanya orang Jepang kalau lihat ada yang bunuh diri bukannya iba, tapi “Haduuuh.. Bikin guwa telat aja..”

Leave a Reply