Pernikahan Visioner (1)

02 October 2013 | Islam

Saya mencoba menulis ulang salah satu kajian dari program KRPH Masjid Mardliyyah UGM yang disampaikan oleh Ustad Salim A. Fillah, berjudul Pernikahan Visioner. Saya mendengarkan rekamannya via RadioKRPH yang dapat di-download. Saya juga mencoba melengkapi tulisan ini dari beberapa artikel yang saya baca. Tulisan ini saya bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang materi secara keseluruhan, sedangkan bagian kedua tentang kisah - kisah yang diceritakan Ustad Salim A.Fillah untuk melengkapi kajian tersebut.

Visioner bisa diartikan memiliki pandangan jauh ke depan. Apa maksudnya pernikahan visioner? Maksudnya dapat diartikan memiliki visi untuk membawa pernikahan itu sampai ke akhirat, yaitu akan dihimpunkan oleh Allah SWT bersama keturunan dan keluarga mereka berkumpul kembali di surga. Sesuai dengan firman Allah di beberapa ayat dalam Al Qur’an :

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(QS At Thur:21)

QS Al Furqon:74
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhoan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shaleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “ Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (Q.S. Ar-Ra’d (13): 22-24)

Bagaimana caranya mencapai pernikahan sehingga akhirnya dihimpunkan oleh Allah bersama keturunan dan keluarga berkumpul kembali di surga ?

1. Niat
Dalam melakukan amal ibadah, pertama kali hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan adalah niat. Menikah merupakan suatu ibadah yang mulia, untuk memulainya, perhatikan niat. Apa niat yang tepat dalam menikah sehingga mencapai pernikahan visioner? Tentunya niat hanya karena Allah, Lillahita’ala. Niat hanya karena Allah dapat dideskiripsikan sebagai berikut
a. Agar terhindar dari segala perbuatan maksiat/dosa kepada Allah
Jika seorang manusia merasa sudah mampu (ba’ah) hendaklah ia menikah, karena menikah lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan, sesuai dengan hadits Rasululllah.

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Seorang mukmin tentunya berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan terhindar dari perbuatan dosa. Jika seorang mukmin menikah dengan niat untuk menjaga dirinya, agar terhindar dari perbuatan maksiat dan tidak jatuh ke dosa, itu merupakan niat yang mulia. Allah akan memberi pertolongan kepada salah satunya, golongan orang yang menjaga kesuciannya dengan menikah, sesuai dengan sabda Rasulullah

”Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah; orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya dan orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 437), an-Nasa-i (VI/61), at-Tirmidzi (no. 1655), Ibnu Majah (no. 2518), Ibnul Jarud (no. 979), Ibnu Hibban (no. 4030, at-Ta’liiqatul Hisaan no. 4029) dan al-Hakim (II/160, 161).

b. Pernikahan adalah sebuah amal ibadah yang mulia
Dengan menikah akan terbuka kesempatan banyak amal - amal baru yang tidak dapat dilakukan jika masih “single”. Seseorang yang memiliki niat Lillahita’ala dalam menikah, salah satunya memiliki tujuan agar mampu menegakkan syiar - syiar ibadah yang lebih agung dan lebih mulia dengan menikah. Pasangan suami dan istri sejatinya tidak saling memiliki, tetapi saling dititipi, saling menjaga dalam menggenapkan agama, mentaati Allah SWT.

c. Bersihnya hati dari berbagai macam motivasi - motivasi yang dalam pernikahan dapat menganggu perjalanan keberkahan

Menikah dengan niat Lillahita’ala akan membuat hati menjadi bersih dari motivasi - motivasi yang dapat mengganggu datangnya keberkahan dalam pernikahan. Misalnya prioritas kriteria dalam memilih pasangan hidup. Rasulullah bersabda, pada umumnya memilih pasangan karena 4 perkara, yaitu harta, nasab, kecantikan dan agama. Pada umumnya, agama menjadi urutan terakhir, kemudian Rasulullah berpesan, pilihlah karena agamanya, maka engkau akan beruntung. Harus meluruskan niat, alasan utama apa yang membuat seseorang memilih pasangannya akan menentukan keberkahan dari pernikahannya. Jangan menikah hanya karena kekayaannya, karena akan menjadi kefakiran, jangan menikah hanya karena rupanya karena akan menjadi fitnah, jangan menikah hanya karena keturunannya karena akan menjadi kehinaan. Hikmah tentang memilih pasangan karena agamanya dapat dilihat dari kisah menikahnya putra Umar bin Khotob, dan kisah Mubarok, insyaAllah di artikel bagian 2

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari)

Kunci pertama untuk mencapai pernikahan visioner adalah niat, yaitu niat hanya karena Allah SWT. Lalu apa tips dan trik agar dapat menjemput jodoh terbaik dan mencapai pernikahan visioner, salah satu diantaranya yaitu dengan melakukan kebajikan dimanapun dan tanpa henti. Hal ini tercermin dari hikmah kisah Nabi Musa AS dalam menjemput jodohnya.

2. Operasional
Setelah niat, maka selanjutnya adalah bagaimana dalam mengamalkan, bagaimana operasionalnya. Untuk mencapai pernikahan visioner, tentunya operasionalnya harus sesuai dengan cara - cara yang syar’i, dengan menegakkan nilai - nilai agama Allah dalam segala hal, diantaranya

  1. saat istikharoh
  2. saat memilih pasangan
  3. saat menempuh proses untuk menikah, proses menjemput jodoh terbaik, apakah dilakukan dengan cara - cara yang syar’i, mulia dan berbuah pahala atau dengan cara - cara yang mendekati zina dan menjatuhkan diri ke dalam maksiat dan dosa
  4. saat proses akad dan walimah, tunaikan rukun dan hal - hal yang disunahkan
  5. bagaimana menjaga hubungan antara suami istri, bagaimana menunaikan hak dan kewajiban antara suami istri, bagaimana komunikasi antara suami dan istri yang saling memuliakan dan melengkapi.
  6. bagaimana mendidik anak - anak dan keturunannya.

Agar dapat mendidik anak - anak dan keturunan yang sholeh dan sholehah, seorang laki - laki yang akan menjadi calon ayah akan memilih calon ibu yang sholehah. Bagaimana cara mendapatkan jodoh calon ibu yang sholehah? Jika mengaku cinta kepada Allah, maka hendaknya memantaskan diri untuk dicintai oleh Allah, begitu juga untuk mendapatkan jodoh calon ibu yang sholehah, yaitu berusaha menjadi calon ayah yang sholeh, karena ibu yang sholehah hanya untuk calon ayah yang sholeh dan begitu juga sebaliknya, sesuai firman Allah dalam QS An Nur 26

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

3. Menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai sarana untuk mendakwahkan syiar Allah
Manusia merupakan mahluk sosial, lingkup sosial terkecil adalah keluarga inti, ayah, ibu dan anak - anaknya. Tentunya kita tidak hanya berinteraksi dengan keluarga dalam 24 jam sehari, tetapi sebagian besar waktu kita digunakan berinteraksi dengan lingkup sosial yang lebih besar. Dakwah sering dinilai sesuatu yang hal yang besar dan terlalu sulit, padahal setiap mukmin memiliki kewajiban untuk berdakwah, dakwah merupakan suatu upaya untuk menjaga diri kita. Begitu juga dalam membangun keluarga, misalnya anak - anak kita akan menghabiskan waktu bermain dengan tetangga kita, saat tetangga dan lingkungan baik, maka anak - anak kita akan terjaga, tetapi tentu tidak jika sebaliknya. Lingkungan yang baik dapat dibentuk salah satunya dengan mendakwahkan syiar Allah dalam lingkungan tersebut.

Semoga bermanfaat, Yokohama, 2 Oktober 2013.

Gambar di ambil dari sini.
Referensi :
http://maramissetiawan.wordpress.com/2012/10/08/bersama-orang-tua-menuju-surga-tafsir-q-s-at-thuur-21/
http://www.islamedia.web.id/2011/08/visi-rumah-tangga-muslim-dalam-surat-al.html
http://www.konsultasisyariah.com/bertemu-di-surga-dengan-orang-tua/
http://aguslim.blogspot.jp/2011/05/nabi-musa-bertemu-jodoh-di-madyan.html


Leave a Reply