Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu

03 September 2013 | Islam

Saat Allah menitipkan buah hati, artinya pasangan suami istri tersebut diberikan amanah, maka amanah tersebut harus dijaga secara baik. Untuk mendidik anak - anak yang sholeh sholehah dan qurrota’ayun, diperlukan kerjasama yang “keren” antara ayah dan ibu. Secara fitrah, seorang wanita tentunya memiliki naluri keibuan. Sejak diciptakan, seorang anak menghabiskan waktunya lebih lama dengan ibunya, yaitu sejak dikandung di dalam rahim ibunya. Anak merupakan investasi terbesar, salah satu amal jariyah yaitu anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Doa dan harapan sebuah keluarga muslim tentunya ingin mendapatkan keberkahan dari rumah tangga yang sakinah mawwadah warohmah, bersama - sama memasuki surgaNya kelak dengan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Tahun lalu (ya ampuun udah lama banget… :D), sempat membaca - baca sebuah buku mendidik anak ala Rasulullah (Prophetic Parenting), sinopsisnya saya tulis di sini. Rencananya, mau membaca seluruh bab dalam buku itu, tetapi karena saya yang super malas :(, ternyata baru selesai membaca bagian awal (tentang materi pranikah).
Tidak sengaja membaca note dari teman saya yang tinggal di Jepang, note tersebut berjudul “Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu”, note tersebut mengutip tulisan dengan judul yang sama yang ter-posting di beberapa web islam. Tulisannya benar - benar inspiring, tertohok sangat …. Anak memang investasi terbesar, kita belum tentu dapat mendidik anak kita nanti seperti orang tua kita mendidik kita sampai saat ini :(. Nasehat dari kakak - kakak, teman - teman yang sudah memiliki buah hati, lebih baik dimulai membaca dan mencari ilmu parenting sebelum menikah, karena saat sudah menikah dan si buah hati sudah lahir, waktunya akan lebih terbatas dibanding jika masih single. Yups, mari belajar dan semangat membaca bab - bab selanjutnya! ^_^

Anyway, artikel berjudul Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, saya salin di bawah, supaya teringat jika membuka blog, mengharu biru … :). Sumbernya berasal dari portal bersamadakwah.com

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.


Leave a Reply