Bara Asmara (Barokah - Assakinah Mawaddah Warohmah)

13 August 2013 | Islam

Bara Asmara merupakan singkatan dari Meraih Barokah dengan Assakinah Mawaddah Warohmah, salah satu judul kajian dari program KRPH (Kajian Rutin Pagi Hari) Masjid Mardliyyah UGM yang disampaikan oleh Ustad Salim A. Fillah. Saya mendengarkan rekamannya via RadioKRPH yang bisa di-download di sini , kajian ini sebenarnya dilaksanakan pada bulan Februari 2012 (ternyata sudah super lama, ketinggalan kereta hehe :D). Saya mencoba menulis ulang materi kajian tersebut.

Sakinah, mawaddah warohmah merupakan kata - kata yang tidak asing kita dengar, kata - kata tersebut tercantum di dalam firman Allah QS. Ar Rum:21

dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Ar Rum :21).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna kalimat “Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri” adalah Allah menciptakan perempuan bagi kamu dari jenis kamu untuk menjadi istri (pasangan) kamu. Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan bahwa perempuan diciptakan dari jenisnya laki-laki diantaranya adalah di dalam QS An Nisa’:1

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[1]Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS An Nisa’:1)

Dari ayat tersebut, “Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak“, perkembang biakkan ini dalam islam diatur dalam suatu pernikahan yang dimulai dengan suatu perjanjian yang kokoh dan mulia (mitsaqon gholidzo).

1. Sakinah
Allah menciptakan Hawa dari Adam, agar Adam tentram karena berasal dari satu unsur yang sama, saat gelisah, ketenangannya ada dalam bagian dari dirinya, yaitu Hawa. Inilah sakinah, sesuai dengan potongan ayat QS Ar Rum:21 “Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya“. Menurut Imam Ibnu Katsir, makna dari sakinah adalah
a. Supaya kamu kemudian bisa menjaga kehormatanmu/iffahmu
Dengan kehadiran seorang istri, seorang laki-laki terhindar dari kemaksiatan, laki - laki dapat menjaga kesuciannya (begitu juga sebaliknya dengan kehadiran seorang suami bagi perempuan). Dapat berlari dari haram yang keji menuju halal yang suci, dari haram yang penuh dosa menuju ibadah yang penuh dengan pahala. Suami dan istri saling terikat aktifahnya/perasaannya, keterikatan perasaan ini didasarkan pada keimanan kepada Allah, menjadikan cinta antara suami dan istri untuk beribadah kepada Allah.
b. Supaya kamu cenderung kepadanya
Menjadikan pasangan hidup tempat berlabuh, tempat untuk membagi keluh kesah, sharing perasaan, mencurahkan hati. Suami istri saling cenderung satu sama lain, tempat dimana saling membagi segala rasa dalam kehidupan.
Kecenderungan terhadap istri ini harus selalu dibangun, seperti yang tercantum dalam hadits Rasulullah

“Jika salah seorang di antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita itu, maka ia harus langsung pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR Muslim).

c. Supaya kamu merasakan ketenangan lahir dan batin
Merasakan i’tinan, ketentraman, tuma’ninah, ketenangan lahir dan batin dengan kehadiran suami/istri. Ketenangan tercapai karena terdapat gelombang yang sama antara suami dan istri, yaitu karena adanya kesamaan iman, kesamaan untuk mengagungkan Rabb. Faktor terpenting untuk membangun sakinah bukanlah kesamaan yang lain melainkan kesamaan iman dan takwa untuk menganggungkan dan beribadah kepada Allah. Dengan adanya faktor keimanan diantara suami dan istri, faktor - faktor dan kesamaan yang lain akan mudah menyesuaikan.

Dalam hadits Rasulullah, faktor utama untuk memilih pasangan hidup adalah karena agamanya, menikahlah karena dien-nya, maka kamu akan beruntung. Pemahaman agama seseorang di sini maksudnya tercermin dari ilmu, amal dan komitmen untuk mencari ilmu dan beramal.

Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Sakinah dapat terwujud dengan adanya keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sakinah melahirkan ketentraman, yang dibutuhkan untuk membesarkan generasi penerus (keturunan). Mendidik generasi penerus(keturunan) untuk menaati Allah agar menjadi keturunan sholeh dan sholehah serta qurrota’ayun, seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam firmannya QS At-Tahrim:6 . Tanpa sakinah dan ketentraman, ikhtiar untuk mendidik generasi penerus tidak akan bisa dicapai secara optimal

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

2. Mawwadah
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mawwadah adalah cinta yang bergelora, rasa cinta yang memprioritaskan orang yang dicintainya. Berbeda dengan sakinah yang diawali dengan kata holaqo pada QS Ar Rum:21, mawwadah diawali dengan kata ja’ala. Dimana perbedaannya? Holaqo mengandung makna penciptaan tanpa syarat, penciptaan secara natural sedangkan Ja’ala merupakan penciptaan oleh Allah dimana hamba-hambanya diberikan ruang - ruang untuk berkarya. Sakinah merupakan sebuah keniscayaan, penciptaan dari seorang istri dari kalangan sendiri dan sejenis, sakinah merupakan “modal” yang diberikan oleh Allah bagi pasangan suami istri. Sedangkan mawwadah dan warohmah, membutuhkan upaya dari manusia. Pasangan orang beriman memerlukan ilmu, keterampilan, latihan untuk bisa mengeskpresikan cintanya. Cukup banyak kasus dalam pernikahan yang bukan dikarenakan kurangnya cinta, tetapi kurangnya ilmu untuk mengekspresikan cinta.

Mawwadattan, cinta yang bergelora, cinta yang berhubungan dengan hubungan fisik antara suami istri, muncul sebagai passion/gairah atau semangat kehidupan dalam keseharian, beberapa tanda mawwadah yang ditumbuhkan
a. menggebu - gebu, bergelora, banyak mengingat
b. seorang yg dilanda mawaddah banyak berkomunikasi, banyak berbincang
c. saling memberikan kejutan dan hadiah

3. Warohmah
Rahmah adalah kasih sayang dan kelembutan, yaitu rasa cinta yang mengutamakan yang dicintai karena takut akan menyakiti/menimpa keburukan/melukai, penjagaan yang sangat besar terhadap pasangan satu sama lain.

Sakinah, mawwadah, warohmah, kebaikannya diikat dalam satu kata yaitu “barokah”. Barokah mengandung arti ziyadatul khair ‘ala al ghair, yaitu bertambahnya kebaikan dalam setiap hal/keadaan. Sakinah, mawwadah dan warohmah yang diikat dengan barokah akan membuat pasangan suami istri semakin dekat kepada Allah, semuanya terasa indah, di dalam sedih ada kesabaran di dalam kebahagiaan ada rasa syukur. Rasulullah mencontohkan do’a pengantin yang sangat indah

“Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair”
Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang mahupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan”(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majjah)

Tidak ada kehidupan manusia layaknya seperti di negeri dongeng, pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selama - lamanya. Dalam menjalani rumah tangga dan kehidupan, ada saat bahagia, ada saat sedih, tetapi semuanya terikat dalam barokah untuk selalu beribadah kepada Allah, semuanya akan terasa sangat indah hingga khusnul khotimah dan memasuki surgaNya bersama kelak. Sehingga hati - hati dalam memberikan do’a bagi pengantin, misalnya ada versi
a. Semoga langgeng sampai kaki kaki ninen ninen, doa ini tidak mendoakan untuk khusnul khatimah

b. Semoga langgeng dunia akhirat, do’a ini hanya mendoakan langgeng dunia akhirat, tetapi bagaimana jika langgeng-nya di neraka?

Menikah dikatakan separuh dien, karena dengan menikah akan terbuka kesempatan amal - amal baru bagi manusia yang tidak dapat dilakukan jika masih “single”, beribadah bersama antara suami dan istri kepada Allah, berusaha mencapai keberkahan dengan sakinah, mawwadah dan warohmah hingga khusnul khotimah dan memasuki surgaNya bersama kelak dengan keturunan yang sholeh dan sholehah. Indahnya pernikahan dalam islam.

Sesi tanya jawab:
1. Bagaimana cara menjaga sakinah mawwadah warohmah jika menjalani LDR (long distance relationship)?
Jawaban :
Sebenarnya saat LDR, kesempatan untuk saling merindukan dan mewujudkan samara cukup besar, salah satu caranya pertemuan dijaga baik, komunikasi dijaga baik, memberikan surprise, kejutan dan hadiah.

2. Apakah maksud/cerita dibalik hadits

Ibnu Majah meriwayatkan hadits yang dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Saat Mu’adz tiba dari Syam, ia bersujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata: “Apa ini wahai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Aku telah datang ke Syam, aku temui mereka bersujud kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku melakukan itu kepada Anda.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda: “Jangan lakukan itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, pastilah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang istri disebut telah menunaikan hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk melayaninya sementara ia berada di atas pelana unta, maka hal itu tidak boleh menghalanginya.”
(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Jawaban :
Yang harus ditaati istri adalah suaminya, yang harus ditaati oleh suami adalah bundanya. Suami berkuasa terhadap istri, sedangkan ibu terhadap anak laki - lakinya, tetapi ini tidak dijadikan tirani.

Terdapat satu hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam–menurut sebagian ulama statusnya hasan- yang meguatkan hal ini, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?” Beliau menjawab: “Suaminya.”
Aku bertanya lagi, “Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?” Beliau menjawab, “ibunya.” (HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212)

Maknanya banyak kebaikan istri diletakkan oleh Allah SWT kepada baktinya terhadap suami. Bakti yg besar kepada suami merupakan kunci memasuki surga bagi seorang istri. Jika seorang istri wafat terlebih dahulu dalam keadaan suami meridhoinya, maka surga baginya. Salah satu hadits yang menjelaskan tentang istri sholihah yaitu istri yang selalu berusaha untuk mendapatkan ridho suaminya,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata:
“Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.”
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Seorang istri wajib mengingatkan suaminya dengan cara yang agung, mulia dan ta’lim ketika suaminya keliru dan salah, dan seorang istri juga harus bisa mendengarkan nasihat - nasihat dari suaminya ketika suami memberikan pengajaran terhadap dirinya.

3. Apakah menikah dengan cara menggunakan proposal/CV lebih menjamin sakinah mawwadah warohmah daripada dengan cara “menembak langsung”?
Jawaban
Tidak ada yang menjamin.
Yang menjadi jaminan adalah apakah prosesnya dilalui dengan kebaikan atau tidak, apakah prosesnya terjaga hukum syar’i-nya atau tidak. Proposal merupakan salah satu wasilah yang diharapkan agar ada keterjagaan proses dalam ikhtiar menjemput jodoh terbaik yang sesuai dengan cara islam.
Dua prinsip yang harus dipegang dalam proses menjemput jodoh terbaik
1. Tidak akan menyesal orang yg istikharoh
2. Tidak akan rugi orang yg musyawaroh, proposal merupakan salah satu cara atau wasilah untuk musyawaroh.

gambar diambil dari sini


Leave a Reply